Kopi.
Bisa kubayangkan secangkir kopi diletakkan manis tepat diatas sebuah meja kayu, ditemani rotibakar sarikaya. Ini bukan kopi biasa, bisa kucium dari aromanya. Kopi itu hitam, tapi entah warna hitam itu tidak membuatku enggan untuk melihatnya. Aku tetap terpesona.
Aku ingat cerpen itu. Judulnya Filosopi Kopi. Aku semakin tertarik pada kopi. Di dalam cerpen itu jelas tergambar deskripsi berbagai macam kopi. Kopi yang diracik dengan sepenuh hati.
Ingin sekali aku bangun terlampau pagi, meyempatkan sarapan disebuah kedai kopi, dan menikmatinya bersama suguhan-suguhan kecil. Menghirup aromanya, menegukkan kopi sedikit demi sedikit, dan tersenyum puas. Tapi, kenyataan berkata lain.
Aku tidak suka kopi. Kopi itu pahit. Apapun bentuknya, aku tidak pernah suka kopi. Bukan berarti aku benci kopi tentunya. Aku pernah untuk mencoba suka. tetapi tidak bisa.
Kopi itu unik, setahuku, kopi itu berwarna hitam. Kopi itu pahit dan berwarna hitam, tapi aromanya menyenangkan. Kopi, dicampurkan dengan apapun, dia tetap menunjukkan keunikannya, rasa pahit. Sekalipun rasa pahit itu terkadang tenggelam dengan rasa manis (atau rasa lainnya).
Aku kagum pada kopi. Sesekali aku ingin mencoba Kopi Luwak, atau menikmati kopi-kopi lainnya. Tapi… aku tidak suka! HM.
Mungkin, mulai sekarang aku harus mencoba untuk suka.
- avril 3 2011 | - Read More →

