Selera Humor Rendah(an)
Gue punya selera humor yang tidak pada tempatnya.
Atau memang sebenarnya hidup ini tidak pantas ditertawakan? Apa sih. Anyway, mungkin masalahnya gue terlalu gampang ketawa. Biasanya ada kan orang-orang yang bisa buat komentar-komentar bego dan apapun bentuk maupun konteksnya selalu sukses bikin gue ketawa. Dan kebetulan juga gue suka gak sengaja buat komentar bego macam itu.
Nah, masalah selera humor ini juga yang sering membuat gue terasing dari orang-orang. Entah udah berapa kali gue ke bioskop, milih film komedi, dan emang niat buat ngilangin stres dengan ketawa sebanyak-banyaknya. Ada beberapa adegan yang gue anggep lucu, tapi satu studio cuma gue doang yang ketawa (anyone?). Ini gue yang sarap atau orang-orang ngira adegannya romantis?
Gue jadi mikir, apa sebenernya yang ngebuat orang ketawa? Kenapa kita bisa punya ‘selera’ dalam mencerna sesuatu yang lucu? Apa yang ngebedain kita?
Rasanya nggak ada jawaban definitif buat pertanyaan di atas. Karena apa yang bisa menjadi bahan humor berada di wilayah abu-abu: satu orang bisa bilang bahwa lelucon tentang ras itu lucu, tapi buat yang lain bisa dianggap kasar. Misalnya, orang kulit hitam bilang nigger itu bisa jadi lucu, tapi kalau orang kulit putih yang buat? Bisa dibakar hidup-hidup tuh.
Kita menggunakan humor buat melepas stres, ngeluarin diri dari suasana canggung, dan umumnya bersenang-senang. Tapi kita juga menggunakan humor buat ‘menghaluskan’ komentar pada masalah-masalah yang kita hadapi. Hei, bahkan masalah kayak politik jadi nggak sulit dicerna kan kalau bentuknya komedi?
Ada film dokumenter yang pernah gue tonton (judulnya Funny Business kalau gak salah), dan disana, ada tiga kondisi dimana sesuatu itu dianggap lucu: dengan bersikap tidak pada tempatnya, berada pada tempat yang salah, dan sesuatu yang tidak pada proporsinya. Tiga kondisi ini yang jadi basis untuk semua jenis komedi.
Dan cara pemakaiannya pun macam-macam. Misalkan kalau kita lihat kartun klasik Tom & Jerry, segmentasinya cukup luas walaupun kartun, karena ada penggunaan elemen hiperbola (bahkan cenderung slapstik karena berapa kali dipukul palu pun gak mati-mati. Dasar gila) dan metafora (kadang-kadang penggambaran karakternya terlalu manusiawi). Selain itu, humor macam ini sebenernya gak butuh terlaku banyak dialog, anak kecil pun bisa nangkep lucunya dimana. Tepat zaman-zamannya Charlie Chaplin dan The Three Stooges.
http://www.youtube.com/watch?v=ZN8fbYA0eZw&feature=youtube_gdata_player
Atau bentuk familiar yang lain, komedi situasi. Pasti pada pernah nonton Friends kan? Beberapa sitkom lain kayak How I Met Your Mother, My Wife & Kids, Rules of Engagement, The Big Bang Theory juga punya jenis humor yang sama. Jenis komedi ini umumnya make lelucon yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, dengan tokoh utama yang relatable (karena normal sendiri) diantara tokoh-tokoh yang absurd. Biasanya sitkom, karena berformat serial, punya gimmick yang gampang diinget pemirsa, misalnya Barney Stinson di HIMYM yang punya banyak banget catchphrase (“LEGEN… wait for it… DARY!”)
Asal budaya juga bisa buat bahan komedi. Orang Inggris biasanya suka humor yang cerdas, penuh references, dan cenderung dry.
http://www.youtube.com/watch?v=hNoS2BU6bbQ&feature=youtube_gdata_player
Sedangkan pada orang Jepang, humor biasanya muncul karena sikap mereka yang penuh basa-basi.
http://www.youtube.com/watch?v=UMnyXkSZNNc&feature=youtube_gdata_player
Hmm, selera humor gue gak jelek-jelek amat kan ternyata.
- décembre 27 2010 | - Read More →

