Diam.
Lamunan ditemani dengan tetes-tetes air hujan yang mengalir lembut dari pangkal daun ke tanah, udara yang dingin serta suasanan yang nyaman. Tidak ada kata, tidak ada pula rasa. Semua diam.
Tapi diam itu berbeda, dalam diamnya, ia menanti sesuatu.
Ia sudah tidak seharusnya menanti, menungu. Ia tidak pula seharusnya berbeicara, memuntahkan kata-kata penyesalan dalam lamunannya.
Ingin sekali dengan adanya penyesalan, ingin berkata, tapi semua itu sirna dan tak pernahterpikir olehnya.
Ia jelas, menanti penantian yang tidak sampai, menanti untuk sesuatu yang Ia sendiri tertahan untuk menanti.
Diamlah menjadi solusi. Diamlah temannya, diam lah hal terbaik ayang pernah Ia lakukan. Diam itu sempurna baginya.
Diam merupakan misteri paling menyebalkan, tetapi Ia sangat menikmatinya. Sekalipun Ia tidak ingin diam, tentunya.
Tiada balas, tidak terganti. Kesenangan palsu dalam dalam senyumnya. Tidak menjelaskan segalanya.
Hujan berhenti seiring dengan lamunan yang terpecahkan, semua kembali diam.
- décembre 25 2010 | - Read More →

