Komunikasi

Kenapa ya, seiring dengan kemajuan teknologi, semakin banyak masalah.

Dalam berkomunikasi, manusia kekinian sudah tak lagi menggunakan merpati pos, tetapi via telephone, twitter, facebook, even we have skype, yang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi, bertatap muka.

Tapi, kenapa, teknologi ini malah semakin memanjakan kita, semakin tenggelam dalam keterlenaan dunia teknologi?

Gue inget, ketika gue masih kecil. Gue nggak punya handphone. Gue cuma bermodal uang 2000 rupiah untuk pulang, sendiri, naik angkot.

Tapi toh, gue bisa hidup. Dari kelas 1 SD - 4 SD tanpa handphone, saat lebaran menggunakan kartu pos, saat titipan pesanan kilat belum muncul, saat Pak Pos menjadi orang tersibuk kedua setelah presiden. Menanggung amanah tak kalah penting dengan presiden.

Handphone pertama yang gue kenal itu 3350 (eh, bener gak ya?) Masih hitam putih. Nomor handphone hampir sama mahalnya dengan handphone itu sendiri. Satu handphone untuk satu keluarga.

Lalu, berangsur angsur, alat komunikasi itu semakin lama semakin canggih, mulai dari kamera, memutar musik, menyimpan data-data penting. Even the most crucial social media (for me), BBM. Huft.

Setelah itu, gue mengenal internet. Pertama tahu, lupa tepatnya kapan, di ajak kakak main MIRC. HOHO. It’s quiet fun, then move to friendster, and so one. Dan yang palinf terkenal sekarang : TWITTER! Yay, seberapa sering hastag orang Indonesia masuk trending topics? Haruskah kita bangga, ataukah malu?

Ya, dari berbagai alat komunikasi, timbul rasa candu. Timbul rasa-rasa baru. Semakin canggih komunikasi, semakin pula tingkat kepercayaan seseorang.

Saat ini, banyak banget orang yang putus hubungan hanya karena tidak berkomunikasi. Mari kita contoh salah satu iklan sebuah provider.


A : ” Jangan tinggalin aku!”
B : ” apa susahnya ngomong? Sms nggak pernah, telpon nggak pernah!”
A : “aku…..”
*efek sound lebay*
A: ” AKU NGGAK ADA PULSA!!!”


Memang, rasanya iklan itu berbau agak hiperbola. Tapi nyatanya, hal ini memang sungguh terjadi di kehidupan manusia era ini. Seberapa banyak pasangan kekasih yang berantem hanya karena tidak text messaging in one day, or BBM, or telpon, or twitting.

Bagaimana dengan masa lalu? Saat cinta dibubuhi embel embel merpati pos, yang kita tahu sendiri, kita harus menunggu beberapa lama, untuk mendapat balasan? Atau untuk mereka, para istri yang ditinggal suaminya untuk perang?

No handphone. No phone call. No those distracting-LED Light.

Kenapa, sebagai seorang manusia era kini, rasa sabar, rasa sayang dan rasa percaya itu semakin lama semakin berkurang? Bukankah kita sebagai manusia era kini seharusnya bersyukur, bahwa kita telah diberi kemudahan, oleh Alexander Grahambell dalam berkomunikasi?

Rumit. Memang. Banyak orang yang berkata bahwa komunikasi itu penting. Komunikasi adalah dasar dari segalanya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang dapat berkomunikasi dengan baik kepada orang yang dipimpinnya.

Atau yang paling meremaja saat ini :

 Relationships won’t work without communication


For me, I surely agree with that statement. But, not everyone agree with that statement. Karena memang, berkomunikasi tidak berarti setia. Banyak pula manusia era kini yang sering berkomunikasi dengan pacaranya while selingkuh-ing dengan-selingkuhannya.

But seriously, this communication technology kills us slowly but sure. Dengan adanya internet, atau kapasitas lainnya, privasi kita semakin keganggu. Pribadi manusia dengan mudahnya ter-ekspos. Manusia era kekinian pasti kenal ‘kepo’. Itu merupakan salah satu bentuk pernghancuran privasi (kasarnya).

Bahkan ada orang yang di culik karena kenalan di facebook. Nah ini nih yang horor.

Beside, communication technology ini memang mempermudah info, bahkan bisa berkenalan dengan orang luar negeri, kyaaaaa!

Segala sesuatu tentu ada kekurangan dan kelebihannya yang pasti kita nggak boleh menjadikan komunikasi ini candu dan ketergantungan, hargai privasi, dan tentu ambil yang positifnya :)

Last but not the least, [HEHE]

Apakah komunikasi merupakan bagian yang krusial dalam relationship?