Matahari sebenarnya nggak pernah terbit dan terbenam. Cuma bumi yang berputar
- décembre 27 2011 | - Read More →
Matahari sebenarnya nggak pernah terbit dan terbenam. Cuma bumi yang berputar
Anyways this blog recently about love life. Nope, I still have another life waited up to post! Kyaaaaaa. #salahgrammar #bodoamat
Fellas ?
Have you ever feel, you scared of everything, scared of losing all the things you love, the person exact you love?
Hari ini Aku mendadak bangun. Rasanya sesek. Takut, sekaligus sedih, sekaligus iri, sekaligus segalanya. Waktu ini berjalan begitu lambat, air mata ini tersendat dan nggak bisa keluar. Yang akhirnya Aku memutuskan untuk menulis.
Kadang, hal yang tidak kamu perkirakan, hal kecil bisa menjadi tombak bagi kamu sendiri, untuk memulai perubahan. Kata-kata itu, tawa itu bukan membuatku semakin senang, tapi semakin sedih. Semakin Aku sadar aku sudah terlalu jauh, tidak mengenalnya. Bukan karena siapa, atau apa, tapi karena dirimu sendiri.
Rasanya sudah terlalu lama aku egois. Tidak memerhatikan dia, sekitar, teman, terlalu fokus pada diri sendiri. Mungkin karena Leo, Aku selalu merasa diriku nomor satu. Masalahku, masalahmu juga. Dan masalahku merupakan masalah nomor satu di dunia, like-a-queen.
Tapi apa yang aku dapat? Rasanya disini cuma sedih, nyesek karena bener-bener enggak tahu apa-apa. Aku terlalu membesar-besarkan masalah, memendam sendiri, lalu Aku luapkan ke seorang. Dan dia lah orang beruntung yang kena batunya. Tee hee.
Sudah berapa lama ya aku tidak mendengarkan? Merasa selalu paling benar. Merasa tidak pernah dan tidak mau di salahkan. Selalu mengundang perdebatan, yang tidak ada jawabnya, hening.
Maaf ya, segalanya kadang menjadi berantakan. Aku jadi sering menutup telinga, terlalu banyak berbicara. Aku bahkan nggak tahu apa-apa tentang kamu, bukan karena (mungkin) kamu nggak cerita atau (mungkin) karena aku tidak pernah mendengarkan.
” Aku udah nggak tau lagi gimana saat aku nggak punya alesan untuk ketemu kamu, sms kamu, bbm kamu, aku masih belum kebayang”
Semoga semoga semoga kata-kata terus dan nggak akan pernah berubah, apapun yang terjadi nanti ya.
I miss you, please stay, don’t go :’)
(Inspired by raikalifaputri.tumblr.com, sebuah blog yang berisi ketulusan penulis, yang membuat aku nggak berhenti untuk klik tombol ‘next’)
Kenapa ya, seiring dengan kemajuan teknologi, semakin banyak masalah.
Dalam berkomunikasi, manusia kekinian sudah tak lagi menggunakan merpati pos, tetapi via telephone, twitter, facebook, even we have skype, yang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi, bertatap muka.
Tapi, kenapa, teknologi ini malah semakin memanjakan kita, semakin tenggelam dalam keterlenaan dunia teknologi?
Gue inget, ketika gue masih kecil. Gue nggak punya handphone. Gue cuma bermodal uang 2000 rupiah untuk pulang, sendiri, naik angkot.
Tapi toh, gue bisa hidup. Dari kelas 1 SD - 4 SD tanpa handphone, saat lebaran menggunakan kartu pos, saat titipan pesanan kilat belum muncul, saat Pak Pos menjadi orang tersibuk kedua setelah presiden. Menanggung amanah tak kalah penting dengan presiden.
Handphone pertama yang gue kenal itu 3350 (eh, bener gak ya?) Masih hitam putih. Nomor handphone hampir sama mahalnya dengan handphone itu sendiri. Satu handphone untuk satu keluarga.
Lalu, berangsur angsur, alat komunikasi itu semakin lama semakin canggih, mulai dari kamera, memutar musik, menyimpan data-data penting. Even the most crucial social media (for me), BBM. Huft.
Setelah itu, gue mengenal internet. Pertama tahu, lupa tepatnya kapan, di ajak kakak main MIRC. HOHO. It’s quiet fun, then move to friendster, and so one. Dan yang palinf terkenal sekarang : TWITTER! Yay, seberapa sering hastag orang Indonesia masuk trending topics? Haruskah kita bangga, ataukah malu?
Ya, dari berbagai alat komunikasi, timbul rasa candu. Timbul rasa-rasa baru. Semakin canggih komunikasi, semakin pula tingkat kepercayaan seseorang.
Saat ini, banyak banget orang yang putus hubungan hanya karena tidak berkomunikasi. Mari kita contoh salah satu iklan sebuah provider.
A : ” Jangan tinggalin aku!”
B : ” apa susahnya ngomong? Sms nggak pernah, telpon nggak pernah!”
A : “aku…..”
*efek sound lebay*
A: ” AKU NGGAK ADA PULSA!!!”
Memang, rasanya iklan itu berbau agak hiperbola. Tapi nyatanya, hal ini memang sungguh terjadi di kehidupan manusia era ini. Seberapa banyak pasangan kekasih yang berantem hanya karena tidak text messaging in one day, or BBM, or telpon, or twitting.
Bagaimana dengan masa lalu? Saat cinta dibubuhi embel embel merpati pos, yang kita tahu sendiri, kita harus menunggu beberapa lama, untuk mendapat balasan? Atau untuk mereka, para istri yang ditinggal suaminya untuk perang?
No handphone. No phone call. No those distracting-LED Light.
Kenapa, sebagai seorang manusia era kini, rasa sabar, rasa sayang dan rasa percaya itu semakin lama semakin berkurang? Bukankah kita sebagai manusia era kini seharusnya bersyukur, bahwa kita telah diberi kemudahan, oleh Alexander Grahambell dalam berkomunikasi?
Rumit. Memang. Banyak orang yang berkata bahwa komunikasi itu penting. Komunikasi adalah dasar dari segalanya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang dapat berkomunikasi dengan baik kepada orang yang dipimpinnya.
Atau yang paling meremaja saat ini :
Relationships won’t work without communication
For me, I surely agree with that statement. But, not everyone agree with that statement. Karena memang, berkomunikasi tidak berarti setia. Banyak pula manusia era kini yang sering berkomunikasi dengan pacaranya while selingkuh-ing dengan-selingkuhannya.
But seriously, this communication technology kills us slowly but sure. Dengan adanya internet, atau kapasitas lainnya, privasi kita semakin keganggu. Pribadi manusia dengan mudahnya ter-ekspos. Manusia era kekinian pasti kenal ‘kepo’. Itu merupakan salah satu bentuk pernghancuran privasi (kasarnya).
Bahkan ada orang yang di culik karena kenalan di facebook. Nah ini nih yang horor.
Beside, communication technology ini memang mempermudah info, bahkan bisa berkenalan dengan orang luar negeri, kyaaaaa!
Segala sesuatu tentu ada kekurangan dan kelebihannya yang pasti kita nggak boleh menjadikan komunikasi ini candu dan ketergantungan, hargai privasi, dan tentu ambil yang positifnya :)
Last but not the least, [HEHE]
Apakah komunikasi merupakan bagian yang krusial dalam relationship?
Hello! it’s me again.
Rasanya agak aneh memang duduk di pojokan cafe meneguk bergelas-gelas air minum sendiri ketika yang lain bersorak-sorai menonton bola.
But somehow, I enjoy it. Gue merasa merinding sendiri melihat semangat suporter ini. Berapi-api dan begitu semangat. Go go Indonesia! :D
Dan pelayan itu datang lagi.
Mbak, saya refill lagi ya, kasian.
Sial.
Hem. Di tengah deadline presentasi metabolisme yang belum selesai dan masuk setengah tujuh di jatinangor, serta belum nge-print+jilid makalah, mari menarik napas.
*fiuh*
Mari bergalau.
Terlalu banyak cerita yang sulit untuk disampaikan dengan kata-kata. Baik itu lisan maupun tulisan. Pada akhirnya, diam menjadi solusi terbaik. Tapi tidak untuk jangka panjang.
Gue bukan orang yang bisa diam kalo sesuatu mulai nggak beres. Gue terbiasa untuk menyatakan segala sesuatu hal yang tidak beres dan menyelesaikannya langsung.
Ternyata saat ini, kebiasaan ini nggak berlaku. Terlalu banyak diam. Mulut ini terasa terkunci untuk berbicara. Berbicara pun tak di dengar.
Gue merasa ada yang nggak beres hari-hari ini. Tapi tiap kali gue bercerita, mereka hanya diam. Terlalu banyak mengeluh katanya.
dan gue merasa hilang.
Gue kehilangan diri sendiri yang selalu berpikir kritis, yang cerewet, yang extrovert.
Rasanya menyebalkan sekali, saat kamu harus bicara, tetapi berbatas waktu, tempat, keadaan.
#abaikan
Here I am, finally breathing, enjoying saturday morning.
I supposed to join “mabim” or Volunteer Doctor for today. But I decided to run and went back home. And that’s FUN! Sometimes we just need time for our self right?
Happy Saturday people! :D